Lalumereka berpisah dan kembali ke rumahnya masing-masing. Keesokan harinya si Pitung dan Mariaa, lala &lulu sedang berjalan-jalan ddi taman dan tidak sengajaa mereka bertemu di bawah pohon yang rinddang, dengan menatap mata dan pada saat itu benih-benih cintapun tetanam di hati pitung&maria. 1 Contoh Naskah Drama 5 Orang. Hari ini pagi begitu cerah. Mifta dan Danni, dua orang siswa dikelas VII yang sedang asyik membaca buku Biologi pada koridor sekolah. Pasalnya pada nanti siang akan terdapat ulangan harian pada mata pelajaran tersebut. Lalu datanglah Angga, sahabat mereka. Angga: "Mif, Dan, rajin sekali kalian!" Narator: Pitung, Ji'i, Rais merampok rumah Touke dan Tuan Tanah Kaya, hasil rampokannya kemudian dibagikan pada rakyat miskin lama kelamaan kegiatan Si Pitung meresahkan. 7. Pitung, Rais, Ji'i : Bermusyawarah. Pitung : Rais, Ji'i saya punya ide, untuk membantu rakyat saya mau merampok Rumah Touke dan Tuan Tanah. ContohTeks Drama Sebagaimana yang telah kita singgung diawal mengenai teks drama, berikut ini adalah contoh naskah singkat dan pendek tentang persahabatan untuk 5 orang, 6 orang, untuk 7 orang, dan untuk 8 orang pemain Contoh Naskah Drama 1 Contoh teks Drama yang pertama yaitu contoh naskah drama singkat untuk 6 orang pemain tentang persahabatan beserta unsur intrinsiknya Unsur Intrinsiknya Skenario : Dalam skrip drama ini pemainnya berjumlah 6 orang. 1 Naskah Drama 5 Orang Tema Persahabatan Narator : Yubi dan Sonny merupakan sahabat baik. Mereka telah bersahabat sejak kecil, tapi suatu hari ketika keluarganya Sony jatuh miskin, Yubi pun tak ingin lagi bersahabat dengan Sony. Saat Yubi, Sony, Chika, Silvi, dan Tyas sedang bersih- bersih kelas sebelum pulang, Sony meminta bantuan Yubi, tapi Yubi ContohNaskah Drama 5 Orang Ke III. Judul: Arti pertemanan Tema: Pertemanan Pemain: Hernita, Yuli, Didi, Juli, Maisaroh. Sinopsis drama: Yuli dan Hernita sedang mengobrol di kantin selama liburan sekolah. Mereka berbicara tentang Joko yang tidak sekolah selama 2 hari dan tidak ada berita. Hernita: Lebih baik kita pergi ke rumah Didi, Yul. Sinopsis: Suatu hari di kampung Rawabelong, hiduplah sepasang suami istri bernama Bang Piun dan Pok Pinah. Mereka mempunyai seorang anak yang bernama Pitung. Mereka menitipkan anaknya kepada Haji Naipin, Guru ngaji yang terkenal di kampungnya, untuk belajar mengaji dan bela diri. Haji Naipin mempunyai banyak murid. NaskahDrama yang akan kita bagikan kali ini tentun Naskah Drama yang berkualitas dan menghibur teman - teman. Naskah Drama ini bertema Komedi dengan judul " SALAH OBAT " dengan pemeran 5 Orang. Semoga Naskah Drama ini dapat menghibur teman - teman dan bisa membantu bagi siapa saj yang sedang mencari bahan Drama untuk pementsan atau tugas sekolah. bF3ysgc. 0% found this document useful 0 votes1 views5 pagesOriginal Title260368381-Naskah-Drama-Si-Pitung 1Copyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes1 views5 pagesNaskah Drama Si PitungOriginal Title260368381-Naskah-Drama-Si-Pitung 1Jump to Page You are on page 1of 5 You're Reading a Free Preview Page 4 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Sinopsis Si Pitung 2013 Di Batavia terjadi bentrok antara Batavia dan Belanda, ada seorang pemuda yang dijuluki si Pitung. Ia adalah seorang yang berasal dari Betawi ia ingin membela Batavia dari serangan Belanda. Pada suatu ketika Menir Belanda bersama seorang centeng dan dua putrinya hendak makan di kedai Nyak Pitung, namun mereka tidak mau membayar sehingga mambuat Pitung marah dan terlibat perkelahian antara Pitung dengan centeng. Dari kedai itulah pertemuan antara Pitung dan Maria dimulai hingga terlibat kisah cinta diantara keduanya. Hubungan mereka tidak direstui oleh Menir, sehingga Menri kesal dan menyebarkan sayembara untuk menangkap si Pitung dengan imbalah hadiah yang menggiurkan. Mendengar sayembara ini, Dudung teman Pitung merasa tertarik dan ia pun mengikuti sayembara ini dengan memberitahu kepada Menir kelemahan si Pitung. Setelah mengetahui kelemahan si Pitung, Menir memerintahkan centeng untuk segera menangkap Pitung. Siang itu seluruh warga kampung dikumpulkan di lapangan, Menir sudah menyiapkan beberapa senjata untuk membunuh si Pitung. Tembakan demi tembakan diluncurkan kearah Pitung hingga akhirnya Pitung pun terjatuh ke tanah dan terbaring tak berdaya. Di saat itu deru tangis sangat terdengar dari Maria, Enyak, Ipeh dan seluruh warga kampung. Tapi tak lama kemudian, Dudung tersadar akan kesalahannya, Ia segera mengambil pistol dan menembakannya ke Menir dan centengnya. Menir beserta centengnya pun terbaring jatuh di tanah. Kini tidak ada lagi bentrok antara Batavia dan Belanda. Batavia menjadi kota yang tenteram dan damai. Naskah Si Pitung 2013 Di Batavia terjadi bentrok antara Batavia dan Belanda, ada seorang pemuda yang dijuluki si Pitung. Ia adalah seorang yang berasal dari Betawi ia ingin membela Batavia dari serangan Belanda. Babak 1 Dan pada saat itu pula Menir Belanda dengan 2 putrinya dan anak buahnya pergi untuk mencari makan di daerah Batavia. Menir “Ayo kita mengisi perut di kedai itu !” Maria “good idea, come on daddy” Lala “Asik yuk daddy cepat” Mamat “Siap tuan.” Di kedai makan Nyak pitung Menir “Disini orang pada makan apa ?” Enyak “Disini cuma ade makanan biasa tuan, Ipeh ambilin makanan buat tuan ini !” Ipeh “Iye nyak, silahkan tuan.” Menawarkan makanan Setelah selesai makan Maria dan Lala merasa kenyang sehingga meminta izin untuk keluar lebih dahulu. Mereka pun meninggalkan kedai makanan itu dengan seenaknya Enyak “Tuan,makanannye belum di bayar !” Menir “You merintah I ? Apa you orang tidak tau I ini siapa ?” Enyak “Maaf tuan, bukannya saya memerintah tuan tapi emang begitu peraturannye.” Menir “You tidak menghormati I !!!!” Dengan marahnya ia menggebrak meja kedai Ipeh “Maaf tuan, saya dan nyak salah.” Dengan wajah ketakutan Tiba-tiba si Pitung datang dengan tatapan emosi yang tertuju kepada Menir. Tanpa basi-basi si Pitung langsung menghampiri kedai dengan menggebrak meja di hadapan Menir. Menir “Maksud you apa ? Kurang ajar you!” Pitung “Emang lu siape beraninye ganggu nyak gue ame penduduk sini ?” Menir “I yang berkuasa disini !!!” Pitung “Lu yang berkuasa di daerah ini ?? Walaupun lu yang berkuasa tapi ini tanah kelahiran gue" Menir “You orang terlalu banyak omong, centeng habisi dia !!!!’’ Mamat “Baik tuan’’ Perkelahian pun dimulai dan akhirnya centeng dikalahkan si pitung, dan Menir pun segera meninggalkan kedai tersebut. Pitung “Rasain lu !!! Lu gak tau siapa gue ? jagoan betawi nih….” Ipeh “Bang Pitung makasih ye udeh nolongin aye sama nyak” Enyak “Iye tung makasih yee ?” Pitung “Iye sama-sama nyak.” Setelah Pitung keluar dari kedai, Maria bersama Lala adiknya menghampiri ayah dan centengnya Dengan raut wajah yang bertanya-tanya karena centeng ayahnya yang kesakitan babak belur Maria “daddy, what happen ?” Mamat “Kami di hajar sama orang betawi itu, non” Lala “Siapa orang itu ?” Mamat “Katanya sih namanya Pitung.” Lala “Siapa Pitung itu ?” Maria “Yeah who’s that ?” Mamat “Banyak yang bilang dia jagoan Betawi.” Sesaat kemudian si Pitung keluar dari kedai dan bertemu dengan temannya lalu berkata. Dudung “Eh Pitung, lu liat gak orang-orang yang lagi pada ngumoul entu ?” Pitung “Oh, ntuh nyang tadi abis ngajak ribut ame gue.” Dudung “Nyok kite samperin.” Pitung dan temannya pun menghampiri Menir itu. Pitung “Eh Menir !!! Ngapain lo masih disini ?” Karena kaget mendengar suara pitung, Maria tak sengaja menjatuhkan sapu tangan miliknya. Melihat kejadian itu pitung segera mengambilkan sapu tangan tersebut tetapi tak sengaja tangan mereka tersentuh bersama dan terjadi tatapan mata diantara keduanya Menir “Hehe you orang ngapain liat-liat anak I ???” Dengan tangan yang akan memukul Pitung dan Pitung pun menangkis dengan silatnya Pitung “Wets…. Ngapain lo ??” Tak lama kemudian centeng Menir pun berusaha melawan Pitung. Namun Dudung, teman pitung melerai keduanya dan mengajak Pitung meninggalkan tempat tersebut. Dudung “Udehlah tung, gak ade gunanye lu berantem ame tuh orang !” Babak 2 Keesokan harinya, ketika Maria dan Lala adiknya sedang berjalan-jalan di taman, tak sengaja mereka bertemu Pitung dan terjadi saling tabrak diantara keduanya. Mulailah benih-benih cinta tertanam antara Pitung dan Maria Maria “Ohh sorry, sorry “ Pitung “Iye gak nape, ehh ini nona yang kemaren kan yak? Ngapain dimari?” Maria “Kami sedang jalan-jalan.” Lala “Ya, kita orang sedang cari udara segar.” Lala “Sister, I mau kesana dulu ya cari angin.” Maria “Oke, jangan jauh-jauh.” Maria dan pitung pun meneruskan obrolannya. Pitung “Kalau aye boleh tau, nama nona siape ?” Maria “Nama I Maria, and nama you siapa ?” Pitung “Name aye Pitung.” Maria “Pitung, apakah you mau menemani I untuk berjalan-jalan keliling kampung ini ?” Pitung ”Iye aye mau.” Mereka berdua pun berbincang-bincang sambil berjalan mengelilingi kampung dan disaat perjalanan anak buah Menir melihat mereka. Mamat “Ternyata nona Maria sedang berjalan-jalan dengan si Pitung, saya harus laporkan ke tuan.” Mamat”Tuan Nona Maria sedang berjalan-jalan di kampung bersama si Pitung.” Menir “WHAT OVER DONGKRAK ??? Suruh pulang anak itu kalau perlu seret dia.” Mamat “baik tuan..” Sementara itu Maria dan Pitung meneruskan obrolannya dan menunjukan sebuah kalung miliknya Pitung “itu ape yang nona pegang-pegang?” Maria “ohh, ini kalung dari my mom, before … terdiam” Tiba-tiba datanglah centeng Mamat “Nona Maria, tuan Menir menyuruh saya untuk menyeret nona pulang !!” Maria “What ? I don’t want to go home.” Lala pun melihat kejadian itu dan menyuruh maria untuk pulang juga dan Mamat menarik Maria pulang. Sementara pitung berusaha menolong tapi ia tidak dapat menghentikannya Maria “Pituuuuuuuuuung !!!” Pitung “oo iye kalungnya maria masih ada di gue, gue janji bakal balikin nih kalung.” Sementara itu di rumah Menir. Maria “Daddy apa-apaan ini, menyuruh centeng seret maar?” Menir “Banyak omong you, go to room, NOW !!!” Maria ”No ! “ Menir “You anak kurang ajar ! menampar Maria Maria pun berlari ke kamarnya sambil menangis. Lala “Daddy jangan kejam sama sister kasiahan dia.” Menir “You juga masuk kamar.” Babak 3 Keesokan harinya, Pitung datang ke rumah Menir dengan keadaan emosi bersama temannya. Pitung “Heh Menir, keluar lo !!!” Tak lama kemudian datanglah mamat Mamat “Heh, ngapain lo teriak-teriak di rumah Tuan gue ?” Pitung “Panggil tuh bos lu !!!” Belum sempat memanggil, Menir sudah terlebih dahulu keluar Menir “Eh you berdua ngapain kesini ???” Pitung “Ngapain lu kemaren nyuruh anak buah lo nyeret Maria pulang ?? Ape itu sikap bapak nyang baek ??!” Menir “Ah… you terlalu banyak omong, centeng hajar dia !!!” Dudung “Tunggu dulu tung, buat ape gue ade disini ?” Pitung “Maksud lo ?” Dudung “Dah.. biar gue nyang lawan anak buahnye.” Pitung “Terserah lo dah.” Lalu perkelahian pun terjadi antara centeng dan Dudung. Tetapi fakta berkata lain Dudung dapat dikalahkan oleh centeng karena memakai senjata. Lalu Pitung pun tidak terima temannya terluka. Pitung “Eh lo udeh berani lukain temen gue, ayo lawan gue sini.” Perkelahian pun dimulai dan Pitung berhasil mengalahkan Centeng Pitung “Mane Maria ?” Menir “Dia tidak ada disini. Pergi you !!” Babak 4 Keesokan harinya karena Menir kesal sudah 2 kali kalah dari Pitung ia mengadakan sayembara untuk menangkap si Pitung dan membawanya kepada menir unruk dibunuh. Barang siap yang bisa menangkap si Pitung akan mendapatkan hadiah yang sangat berharga. Dan ternyata temannya mendengar tentang sayembara itu dan ia tergiur dengan hadiahnya. Di kedai enyak. Enyak “Lagi baca ape lu dung ?” Dudung “Ha.. mau tau aje nyak.” Sambil menggulung kertas sayembara dengan perasaan takut Enyak “Coba sini enyak liat.” Mengabil kertas yang di gengam Dudung, dan Enyak pun kaget Enyak “lo mau ikut sayembara ini dung, jadi lo mau khianatin si Pitung.” Dudung “Ahh nggak nyak.” Sambil berlari meninggalkan kedai Dudung berjalan ke rumah si Menir dan memberi tahu kelamahan si Pitung. Sedangkan enyak yang mengetahui dudung akan ikut sayembara itu memperingatkan Pitung. Enyak “Pitung lo kudu ati-ati ame Menir juga ame si Dudung, die berdua ada rencana mau ngejebak lo tuh demi hadiah.” Ipeh “Ie bang, abang kudu ati-ati ye ame die. Aye khawatir ame abang.” Pitung “Kagak mungkin. Dudung pan sohib aye dari piyik nyak, peh.” PItung menghiraukan peringatan enyak dan ipeh dia pun pergi Enyak “Ye dasar, di peringatin kage percaye. Semoga anak aye kagak kenape-kanepe ya Allah.” Sambil berdoa dan pergi bersama Ipeh Ipeh “Amin ye nyak. Ipeh juga takut.” Di rumah Menir Dudung “Menir.” Menir “Untuk apa you disini ?” Dudung “Kedatangan aye kesini, aye mau ngasih tau ke tuan kelemahannya si Pitung.” Menir “Heh emang you orang tau kelemahan si Pitung ?” Dudung “Wets ntar dulu dong bos hadiahnye dulu mane ?” Menir “Yah okelah, centeng ambilkan hadiah itu untuknya.” Mamat “Baik tuan !!” Centeng pun mengambilkan hadiahnya dan memberikan hadianya kepada si Dudung. Mamat “Ini hadiahnya tuan.” Menir “Oke, apa kelemahan si Pitung ?” Dudung “Die bisa mati kalo die ditembak ame peluru emas.” Menir “ Oh peluru emas ya ?? Ok, baiklah akan I coba saranmu ini.” Babak 4 Tak lama setelah kepergian Dudung, Menir pun menyuruh centeng untuk menangkap si Pitung. Menir “Heh centeng, tangkaplah si Pitung dan bawalah dia !!!” Mamat “Siap tuan.” Lalu centeng menangkap si Pitung dan menyeret nya keluar. Pitung “Lepasin gue !!! Ngapain lo pada bawa gue kesini ?” Sambil bertanya-tanya dalam keadaan emosi Mamat “Tenang aja tung, bos gue pengen ketemu sama lo.” Lalu tak lama kemudian seluruh warga serta Maria dan juga Lala untuk ke lapangan, mereka semua bertanya-tanya mengapa orang-orang disuruh ke lapangan terkecuali Menir. Menir “Eh Pitung, gara-gara you sudah bikin I marah. I akan bunuh you dengan tangan I, Mwhahaha !!” Maria “No daddy No !!!” Sambil menangis dan memohon terhadap daddynya untuk tidak membunuh Pitung Pitung “Sudahlah Maria gak usah di situ !” Maria pun di tarik oleh Dudung bersama Lala untuk menjauhi tempat tersebut Lala “Sudahlah sister, ayo dengarkan Piltung. Eh you tolong bantu I untuk menarik Maria.” Melihat Dudung Lala “Help me please, now !!” Dudung “Ya baik.” Lalu Menir mulai mengokang pistolnya dan mengarahkan kepada si Pitung. Pitung “Ayo tembak gue,” Lalu tembakan pertama pun Pitung bisa dihindarinya. Dan tembakan kedua pun dapat di tangkap oleh tangannya Pitung “Lu gak tau ape ni jurus cicak nangkep mangsanye ??” Menir “What ?” Menir pun kesal dan ia segera mengganti peluru pistolnya menjadi peluru emas dan dia mengokang lagi pistolnya dan mengarahkan kepada si Pitung sambil teriak. Menir “MATILAH YOU PITUNG !!!” Maria “NOOOOOO, PITUUUUUUNG !!!!!” Dan akhirnya peluru itu tepat terkena si dada si Pitung, lalu dia jatuh ke tanah dan Maria pun lari menghampirinya dan Pitung berbicara. Pitung “Maria, ini kalungmu.” Sambil merasakan kesakitan yang amat sakit Sesaat si Pitung sedang merasakan kesakitan Dudung sadar dia telah berbuat kesalahan, ia pun sangat kesal dan ia segera mengambil pistol yang ada di centeng. Lalu menembakannya ke arah Menir. Dudung “MATILAH KAU MENIR !!!!!!!!!” Dan kenalah peluru itu menancap di dada si Menir sementara itu centeng menir yang berusaha menyelamatkan tuannya itu pun tertembak pula oleh Dudung. Akhirnya Pitung dan Menir tidak bisa diselamatkan lagi. Dan Maria teap duduk diantara Pitung dan ayahnya yang terbaring. Lalu Lala membawa Maria untuk pulang dan menenangkan diri. Lala “Ayo sister kita pulang. Bantulah I ? Dudung “Iye, ayo kite bawa ke rumah.” Melihat kejadian itu Enyak dan Ipeh hanya bisa menangis. Dan akhirnya berkat perjuangan Pitung mereka semua hidup dengan tenteram dan tidak ada lagi perkelahian antar Belanda dan Batavia. Maria memutuskan untuk tinggal si Batavia sedangkan Lala kembali ke Belanda. SELESAI NASKAH DRAMA SI PITUNG Pemain 1. Sekar = Narator 2. Ammar = Ji’i 3. Janique = Centeng 1 4. Adza = Centeng 2 5. Tiara = Kompeni 6. Amanda = Mpok Siti + Kompeni 7. Vieri = Pitung 8. Fahmi = Bang Doel 9. Ocean = Kapten Henne Si Pitung adalah seorang pemuda yang sholeh dari Jakarta Barat. Orang Tua Pitung menitipkan Pitung kepada untuk belajar agama dan bela diri. Waktu terus berlalu, Si Pitung belajar dengan tekun dan menjadi pemuda yang pemberani. Desa tempat tinggal Pitung saat itu dikuasai oleh penjajah Belanda. Penduduk desa sering menjadi suruhan Belanda. Pada suatu hari ada centeng yang memeras mpok siti Centeng 1 “Heh… Mpok Siti, tanda tanganin surat penjualan tanah, mau dibeli sama tuan tanah…” Mpok Siti “Itu tanah warisan keluarga aye, mohon jangan diambil!” Centeng 2 “Banyak bacot lu! Cepet tanda tangan atau lo pilih mati.” Kedua centeng itu menarik paksa tangan Mpok Siti untuk menanda tangani. Mpok Siti “Jangan bang!” Melihat kejadian itu si Pitung tidak tinggal diam. Pitung Mpok Siti!” “Heh, centeng-centeng kagak tau diri! Jangan ganggu Centeng 2 “Kalo lo ikut campur urusan kita, lo udah bosan hidup.” Perkelahian pun terjadi. Pitung dengan lincah menghadapi ke-2 centeng suruhan Babah Long Seng. Pitung mengeluarkan jurus maut yang akhirnya dapat mengalahkan kedua centeng. Mpok Siti begimane Pitung “Makasih ye Tung,Kalo kagak ada elu aye ga tau “Iye mpok, lain kali hati-hati ye.” Semakin hari penjajah Belanda semakin kejam kepada penduduk. Kompeni Belanda selalu berjaga membawa senjata. Penduduk pribumi menjadi semakin miskin. Pitung susah.” Ji’I kagak “Kalo ane perhatiin, penduduk di kampung ini semakin “ Iye bang, aye juga merasa begitu. Gile tuh kompeni, punya hati.” Melihat keadaan ini, Pitung dan Ji’I bermaksud menolong orang-orang kampung dengan cara mencuri harta orang Belanda. Perilaku si Pitung sebagai pencuri telah diketahui kompeni, Pitung menjadi buronan kompeni yang paling dicari. Pada suatu malam, Pitung dan Ji’I bermaksud mencuri di rumah tuan Tanah Babah Long Seng. Pitung “Ji’i, kite berpencar disini. Ente masuk ke rumahnya, gue urusin tuh kompeni.” Ji’I “Oke Bang, ane masuk ke rumah Babah Long Seng lewat pintu samping. Bang Pitung hati-hati ye ... entu kompeni senjatanye gede-gede.” Sambil mengendap-endap Pitung mengeluarkan bunyi untuk mengalihkan perhatian kompeni. Setelah Ji’I berhasil mengambil harta Babah Long Seng, mereka berdua bergegas pergi. Namun, salah satu kompeni melihat kejadian tersebut dan langsung terjadi tembak menembak. Pitung berhasil menangkap salah satu kompeni dan memerintahkan kompeni lain untuk menyerah. Kapten Henne sangat marah mendengar kejadian berita itu. Henne tidak bisa!” “Bodoh kalian semua, menangkap seorang Pitung saja Kompeni 1 “Tapi kapten, Pitung juga memiliki senjata!” Henne pencuri “Kalian prajurit tidak berguna, tidak bisa menangkap kampungan!” Kompeni 2 “Saya dengar si Pitung punya jimat, sehingga dia tidak mempan di tembak peluru biasa.” Mendengar penjelasan kompeni, Kapten Henne memanggil Bang Doel seorang tahanan yang pernah menjadi teman baik Pitung. Henne menawarkan uang yang banyak jika Bang Doel berhasil mencuri jimat si Pitung, Bang Doel pun setuju. Pada suatu hari ketika Pitung hendak berwudhu di sebuah sungai dia meletakkan ikat pinggang dan jimatnya di dekat sungai. Bang Doel tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bang Doel “Assalamu’alaikum Bang Pitung” Pitung “Wa’alaikum salam. Eh, Bang Doel, kapan pulang?” Bang Doel “Udeh 4 hari Bang, ini sekarang ane mau ke kulon” Pitung “Jangan lupa salam buat H. Muhammad” Pitung melanjutkan wudhunya. Bang Doel segera mengambil jimat si Pitung dan member aba-aba kepada Henne. Kapten Henne dan pasukannya menyerbu Pitung yang sedang solat. Henne “Hey Pitung, menyerahlah!” Pitung Mengucapkan salam di akhir solat, kemudian mencari jimatnya “Hey, kompeni tukang peres orang kampung. Selama masih ada nafas, aye kagak bakalan menyerah. Lailahaillallah!!!” Perkelahian antara Pitung dan kompeni pun terjadi. Kapten Henne menembakkan peluru emas kearah kaki Pitung, satu peluru lagi mengenai dada si Pitung. Pitung “Allahuakbar!” Akhirnya Pitung pun meninggal dunia. Kapten henne pasukannya membawa jasad Pitung untuk dimakamkan. bersama